Jumat, 25 Maret 2011


Medan - walk 4 autism, gerak jalan akan dilaksanakan pada :
Sabtu / 2 April 2011 pk. 07 - 10 wib
Rute : Medan Club, Jl Kartini - Jl. P. Diponegoro - Jl. HZ Arifin - Jl. T. Imam Bonjol - Jl. Kartini.
Partisipasi kaos min. Rp. 10.000,- / orang (selama persediaan masih ada)
Informasi : Jl. Sei Batang Serangan No. 22 / 91 telp . 061 - 91242471 - 91245472.
SPA,
Andreas

Rabu, 14 April 2010

Homeschooling, Sekolah Alternatif Anak Berkebutuhan Khusus

Oleh : Elisabeth Lily
Bagi seorang anak yang menderita gangguan komunikasi dan perhatian yang disebut sebagai Spektrum Gangguan Autisme (Autism Spectrum Disorder) kehidupan bisa menjadi kaleidoskop kacau dimana pikiran, pemandangan, dan suara bercampur aduk. Anak-anak ASD diperkirakan mencapai 5 persen dari semua anak di Indonesia atau lebih dari 2 juta anak – mungkin mustahil untuk duduk diam, fokus pada suatu tugas, atau bekerja sama dengan orang lain. Bahkan, yang paling mengganggu orang tua, mereka sering kesulitan menguasai bahkan ketrampilan-ketrampilan dasar seperti membaca dan berhitung. Terlepas dari kemungkinan kesalahan dalam penegakan diagnosa awal dan deteksi dini atau labeling yang keliru terhadap tumbuh kembang anak, kesulitan anak untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan lingkunganya, berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain pada kenyataanya semakin banyak jumlahnya.

Masalah timbul ketika harus memilih pendidikan untuk anaknya, setiap orang tua pastilah ingin yang terbaik. Pertanyaan seperti, “Bagusnya pilih sekolah yang mana ya ?” adalah yang paling banyak memenuhi otak orang tua. Sekolah terpadu dengan program inklusi (kebutuhan khusus) atau sekolah reguler ? Yang berasrama atau tidak ? Kurikulum sekolah nasional atau SLB ?

Ada sekolah inklusi dengan kurikulum khusus dari Direktorat Pendidikan Luar Biasa Depdiknas yang menitikberatkan pada pengembangan kemampuan dasar senso-motorik, kemampuan dasar bina diri dan sosialisasi. Umumnya anak gifted atau high functioning yang memerlukan penyaluran bakatlah yang mengikuti sekolah inklusi dengan Kelas Khusus ini.

Bagaimana kalau anak tersebut tidak mampu ikut serta dalam Kelas Khusus karena keterbatasanya, misalnya anak non-verbal, retardasi mental, masalah motorik, auditory, low functioning dan lain-lain?

Sebaiknya mereka diberi kesempatan ikut serta dalam Program Sekolah Di Rumah (Homeschooling Program). Melalui bimbingan para guru/terapis serta kerjasama yang baik dengan oarngtua dan orang-orang di sekitarnya, dapat dikembangkan potensi/strength anak.

Berdasarkan pengalaman penulis yang berkesempatan melakukan studi banding ke negara tetangga Singapura yang pemerintahnya menaruh perhatian sangat besar dalam pendidikan anak ASD ini,kerjasama guru dan orang tua ini merupakan cara terbaik untuk menggeneralisasi program dan membentuk hubungan yang positif antara keluarga dan masyarakat. Bila memungkinkan, dengan dukungan dan kerjasama antara guru dan terapis di rumah, anak-anak ini dapat diberi kesempatan untuk mendapat persamaan pendidikan yang setara dengan sekolah reguler / SLB untuk bidang yang ia kuasai.

Di lain pihak, perlu dukungan yang memadai untuk keluarga dan masyarakat sekitarnya untuk dapat menghadapi kehidupan bersama seorang autistik.

Sejumlah lembaga pendidikan bagi anak autisme di Jakarta dan Bandung sudah menerapkan pola sekolah di rumah ini dengan mengembangkan sendiri kurikulum belajarnya berdasarkan pada pengalaman dan kondisi serta kebutuhan anak.

Walaupun sekolah rumahan,penting sekali untuk menetapkan materi apa yang akan diajarkan agar pengajaran dapat terfokus. Isi kurikulum seharusnya mencakup segala ketrampilan yang diperlukanindividu untuk berfungsi secara baik dalam masyarakat dan menikmati hidupnya (Leaf & McEachin, 1999). Untuk itu, orang tua dan terapis dapat mengacu pada kurikulum yang memang ditetapkan bagi penyandang autis dan sudah dikerjakan bertahun-tahun di negei maju. Beberapa kurikulum yang tepat guna antara lain yang terdapat dalam buku Behavioral Intervention for Young Children with Autism – Catherine Maurice, Work in Progress – Ron Leaf & John McEachin, Bridges – The Individualized Goal Selection Curriculum – Romanczyk, Locksin & Matey dan sebagainya.

Mengingat anak autisme memiliki kemampuan yang berdeferensiasi atau tidak semua anak dapat mempelajari materi sesuai tahapan yang diberikan, sehingga proses perkembangan dan tingkat pencapaian program pun tidak sama antara satu anak dengan anak lainya, kurikulum pun harus dapat dipilih, dimodifikasi dan dikembangkan oleh guru/pelatih/terapis dengan bertitik tolak pada kebutuhan dan kemampuan masing-masing anak sesuai usianya serta memperhatikan sumberdaya/lingkungan yang ada.

Kesadaran akan kemampuan, kekurangan dan kelebihan setiap anak sebagai sesuatu yang sangat individual perlu dimiliki agar tidak terjerumus dalam pelaksanaanprogram yang tidak aplikatif bagi anak itu sendiri. Kaitkanlah selalu materi tersebut dengan masa depan anak : fungsionalkah? mempengaruhi penguasaan materi yang lain-kah?

Sehubungan denga penetapan program tersebut di atas, orang tua dan terapis sering begitu menggebu-gebu ingin mengejar ketinggalan anak autis yang dibimbingnya sehingga mengesampingkan kesiapan mental anak saat akan belajar. Padahal di dalam matei kurikulum tersebut sering sudah dicantumkan prasyarat apa yang harus dikuasai anak sebelum dapat diajarkan materi tersebut. Prasyarat ini menjadi sangat penting artinya karena akan memastikan keberhasilan anak saat belajar nantinya. Jangan sampai seorang anak diberi materi yang 80% akan gagal ia kuasai karena ia belum menguasai persyaratan sebelumnya.

Tentu saja materi tersebut perlu direvisi sejalan dengan perkembangan anak. Dalam kurikulum McLeaf ditampilkan pula ketrampilan bermain, bercakap-cakap, imajinasi/bercerita, kesadaran terhadap lingkungan sosial, matematika, belajar observasi, daya ingat dan sebagainya.

Dalam kurikulum Bridges, materi lebih dielaborasi lagi hingga ke detil yang sangat kecildengan target yang lebih tinggi. Kesimpulanya : orang tua dan terapis harus dapat menerapkan materi pengajaran dengan baik dan benar dan sesuai kemampuan anak saat itu. Pertemuan atau diskusi mengenai masalah berkala penting ditetapkan sesuai waktunya agar terjadi kesinambungan antara terapis pusat dengan terapis rumah, antara sekolah dan kegiatan terapi dan di antara anggota tim lainya. Kita harus bicara satu bahasa, demi anak.

Bagaimana pun rumitnya permasalahan anak autis, mereka masih dapat dididik dan masih dapat belajar. Berbeda dengan anak keterbelakangan mental yang sulit sekali untuk dibantu hidup mandiri karena pemahamanya terbatas.

Karena itu, syukurilah keadaan anak anda dan jadikanlah keadaan inisebagaicambuk untuk berusahalebih keras

(Penulis adalah pemerhati anak)

Senin, 08 Juni 2009

FESTIVAL ABK

SAKSIKAN
Festival ABK

Minggu, 21 Juni pk 13.00-15.00 wib
Atrium Plaza Medan Fair

menampilkan:
  • Meningkatkan kepedulian terhadap Autisme
  • Bermain keyboard
  • Bermain angklung
  • Bernyanyi
  • Membaca puisi

Rabu, 13 Mei 2009

outbound Homeschooling


Outbound ; Mendekatkan ABK
dengan Saudara Kandung

Suasana saat outbound di Sayum Shabah Sembahe


Bulan April identik dengan April Mop yang jatuh pada tanggal 1 April dan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April. Dan tidak banyak orang yang tahu pada bulan April juga diperingati Autissm Awareness atau Bulan Peduli Autis yang jatuh pada tanggal 2 April. Dikalangan orangtua yang memiliki anak dengan Berkebutuhan Khusus dan sekolah tempat terapi ABK biasanya sering melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti Kampanye Peduli Autis, bagi-bagi bunga, Seminar dan sebagainya. Kegiatan tresebut sebagai bentuk kepedulian masyrakat tehadap ABK. Dan diharapkan masyarakat dapat menerima ABK seperti layaknya orang normal lainnya.

Di i-Homeschooling sendiri diadakan kegiatan Outbound ABK dan Sibling (saudara kandung) dari ABK dengan Tema Family Day Out. Diadakan pada tanggal 25 April 2009 bertempat di Lokasi Outbound Sayum Shabah Sembahe dari pukul 7.00 pagi dan berakhir pada pukul 16.00. Ada sekitar 8 kegiatan yang diikuti oleh seluruh keluarga dari ABK seperti Flying Fox, Titian Tali, Rapling, Bim Balance, dan beberapa kegiatan yang lain yang melibatkan saudara kandung dan orangtua. Kegiatan ini bertujuan untuk menimbulkan Sense of Belonging” diantara anggota keluarga.

Berbagai kejadian lucu yang terjadi pada saat kegiatan. Ada yang takut ketinggian dan tidak mau meluncur kebawah pada saat sudah sampai diatas wahana Flying Fox. Jadi terpaksa diturunkan kembali kebawah karena menangis. Ada juga yang justru ingin berkali-kali meluncur. Ada yang harus diberikan semangat oleh kakaknya dari bawah baru mau meluncur. Dan ada juga yang harus dijanjikan untuk beli es krim dulu baru mau turun. Dan karena acara ini diadakan ditempat umum, maka semua tingkah anak-anak ini menjadi perhatian masyarakat yang sedang berkunjung ketempat tersebut.

Harapan untuk kedepan dari kami adalah semoga i-Homeschooling dapat menggelar acara yang lebih besar lagi dan melibatkan orangtua dari ABK dan ABKnya sendiri dari luar i-Homescholing.

Sabtu, 13 Desember 2008

PROGRAM LIBURAN


Bagi anak-anak yang belajar di sekolah umum, pada saat liburan tentunya sangat luang. Sebenarnya waktu luang ini dapat digunakan anak untuk belajar sesuatu yang tidak sempat dipelajarinya bila sekolah sedang tidak libur.

Informasi program liburan dapat diperoleh selengkapnya di i-Homeschooling (Ms.Putri/Ms. Vika).

Berikut adalah formulir pendaftaran yang memudahkan orangtua untuk memilih kegiatan yang sesuai untuk anaknya.

FORMULIR PENDAFTARAN PROGRAM LIBURAN

Nama anak : ………………………………………………………………
Tempat/tanggal lahir : .................................................................
Nama orang tua : ………………………………………………………………
Alamat : ………………………………………………………………
No. Telepon / HP : ………………………………………………………………

Pendidikan yang telah dicapai anak :
a. Sekolah umum / kelas :
b. Homeschooling / kelas :
c. ………………….

Pelatihan yang diharapkan dapat dilaksanakan di i-Homeschooling selama liburan :
Remedial (akademik)
Kelompok belajar
Kelas bahasa asing (English / Mandarin)
Asimilasi sekolah umum
Kelas sosialisasi
Pendidikan agama (Kristen / Islam)
Pelatihan bakat / keahlian :
 Musik :
 Angklung
 Pianika
 Gitar
 Keyboard
 Vocal (menyanyi)
 Kreativitas (kerajinan tangan)
 Shirt painting
 Dancing (menari)
 Sport :
 Tennis meja
 Bola basket
 Badminton
 Berenang
 Bola kaki
 Bersepeda
 Hiking
 Swimming
 Yoga
 Kelas memasak (home industry)
 Workshop pangan
 Berkebun organic
 Beternak ikan
Komputer (mengetik, menggambar, belajar CD akademik…)
Science experimental
Pelatihan kemampuan bantu diri (life skill)
Social manner training
Toilet training
Playgroup bahasa Indonesia
…………………………………………………………

Lamanya mengikuti program liburan : …………….
Uang sekolah : Rp. ……………………………

Hal-hal yang perlu diperhatikan guru : (kemampuan fisik/mental/emosi/diet)
a. ……………………………………………………………….
b. ……………………………………………………………..
c. ……………………………………………………………..
d. …………………………………………………………….
e. …………………………………………………………….
f. ……………………………………………………………


(……………………………………)
Paraf orang tua / wali

Individu ASD Bisa Bekerja ?


Sejak mengelola sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus dan anak ASD (Autism Spectrum Disorder) cara pandang saya terhadap pendidikan dan masa depan anak memang jadi sedikit berbeda, bukan berarti tidak ingin anak sekolah tinggi tapi ternyata ketrampilan amat sangat diperlukan.
Saat ini, perhatian pemerintah terhadap pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus (special needs) memang masih sangat minim. Bahkan jaminan perlindungan dan dukungan bagi mereka belum ada. Sebab itu penyandang ASD membutuhkan dukungan penuh keluarga. Seperti halnya orang normal memiliki kekhasan masing-masing, mereka perlu pemahaman yang dicapai melalui interaksi terus-menerus.
Padahal jumlah anak-anak dengan berbagai kekurangan ini terus bertambah dan sering kali tidak memperoleh pendidikan yang memadai. Betapa pun mereka itu kan juga generasi penerus.
Ada sebuah iklan di luar negeri, tentang seorang anak remaja dengan pakaian tentara menggendong seorang anak lain yang lebih kecil di punggungnya. Saat orang bersimpati betapa berat beban yang dia pikul, anak itu menjawab "he's ain't heavy, he's my brother .... “ (dia tidak berat, dia saudaraku....).

Beberapa orang berpikir, bahwa anak-anak ini kelak akan "menyusahkan" saudaranya, karena kakak / adiknya harus terus "momong". Kalau saya tidak ingin berpikir seperti itu. Setiap orang mempunyai hati nurani, dan mempunyai kerinduan untuk berbuat baik dan semua itu dapat diarahkan untuk berbuat baik pada lingkup terdekat dahulu. Supaya tidak merepotkan, maka kita sebagai orang tua harus menyiapkan sistem dari sekarang, sehingga adil untuk semua anak mendapat kehidupannya masing-masing dan tetap terus saling mengasihi.


Pola Pendidikan

Untuk itu marilah berpikir tentang 'pola pendidikan’ yang sebaiknya ditempuh orangtua :

1. Anak belajar basic academic skills (baca-tulis-hitung) terserah lewat lembaga apa (sekolah reguler, sekolah mainstream, sekolah inklusi, sekolah khusus, SLB, homeschooling, terapi atau apa saja)

2. Anak belajar berbagai pengetahuan umum

3. Anak belajar KEMANDIRIAN dalam mengurus diri sendiri

4. Anak belajar SIKAP KERJA yang positif --- baca instruksi, bekerja sendiri, patuh, paham konsep bekerja dulu baru dapat imbalan, paham urutan dan sebagainya.

5. Anak meningkatkan ketrampilan tangan.

6. Anak digali potensi bakat dan minatnya.

Setelah itu orangtua mulai lirik-lirik atas dasar 'perkiraan' bakat & minat anak, bidang usaha apa yang cocok ? Misalnya :
- anak senang rapi-rapi, senang setrika/cuci pakaian ---- laundry ?
- anak senang goreng - goreng, masak - masak ---- catering ?
- anak senang prakarya ---- handycraft, toko pernak-pernik, kerja sama
dengan butik ?
- anak senang melukis, musik, menjahit, bersih-bersih ...

Kalau sudah ketemu, ketrampilan apa yang belum dikuasai anak agar bisa bekerja di bidang usaha itu ?

Ketrampilan - ketrampilan itu dipelajari di masa-masa antara 'sesudah anak menguasai basic skills’ dan 'sebelum masa dewasa'.

Jangan menetapkan TARGET KEBERHASILAN pada aspek akademis atau bicara saja. Kalau anak 'tertib', 'paham aturan' dan menyukai sesuatu (minat) bukan tidak mungkin dia dilatih ketrampilan tertentu yang membuat hari-harinya berwarna dan ia BANGGA pada dirinya sendiri.

Apa saja yang muncul dari anak-anak kita tidak boleh luput dari pengamatan, karena kita tidak tahu, setelah 10 tahun kebiasaan itu akan menjadi sebuah aktivitas yang luar biasa dan mengundang decak kagum setiap orang.
Lalu bagaimana dengan guru-gurunya? Tidak ada guru yang siap pakai. Semua belajar lagi karena setiap anak berbeda karakternya. Tak ada satu anak ASD pun yang sama persis dengan anak ASD yang lain. Satu hal yang utama, guru itu harus punya niat untuk membaktikan diri terhadap tugasnya, karena urusan ilmu dan teknik bukanlah sesuatu yang tak bisa dipelajari.
Memang kalau mau anak ASD bisa bekerja, orang tua harus mulai mengajarkan pekerjaan rumah tangga secara bertahap, walaupun hasilnya tidak memuaskan, tapi ingat semua orang itu belajar dari NOL.

Semoga ini menjadi inspirasi terutama bagi orang tua yang kebetulan pengusaha dan ingin mulai menciptakan lapangan kerja bagi anak-anak spesial ini. Anak – anak bisa melakukannya karena melihat contoh nyata orang tuanya.

Perhatikan Siapa Mereka ?
Di Belgia, misalnya, ada pabrik roti, toko pembuat kartu dan sebagainya yang menggunakan para penyandang ASD sebagai pekerja. Program ini juga sangat berhasil di Singapura dan Malaysia, menyalurkan anak-anak tersebut untuk bekerja di hotel, entah itu di bagian laundry atau sebagai bell boy.
Di Indonesia ada yang bisa menjadi kasir (toko roti Queen, Solo), presenter dan pengarang buku Autistic Journey 1 dan 2 (Oscar Dompas), bahkan anggota TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia).
Di sekolah saya, sudah ada seorang murid ASD yang juga menjadi asisten guru. Ada juga seorang penyandang Cerebal Palsi yang ingin menjadi penerjemah setelah menyelesaikan paket C (kesetaraan SMU).
Pernah dilakukan penelitian tentang etos kerja dari seluruh karyawan yang ada (antara karyawan biasa dan luar biasa). Yang menakjubkan ternyata hasil produksi dari 2 golongan tadi, karyawan spesial-lah yang memiliki tingkat etos kerja yang tinggi, misalnya jumlah produksi yang dihasilkan setiap harinya meningkat, dalam rate 30 % perbulan, setelah dianalisa ternyata karyawan yang special need tidak pernah melakukan korupsi waktu, tidak lelet-lelet (ogah-ogahan) sedang karyawan yang biasa.... kebalikannya kan?.
Bill Gates, Temple Grandin PhD, Donna Williams adalah individu – individu ASD yang sukses dibidang mereka dan telah menulis banyak buku mengenai kelainan mereka dalam memandang dunia. Sedih rasanya melihat dunia memperlakukan mereka (pelecehan, dibohongin dan sebagainya) karena kelainan yang mereka miliki.


Australia dan Amerika

Di Australia, setiap anak / orang disabled itu harus diperlakukan sama seperti anak / orang normal lainnya. Ada cukup banyak perusahaan yang dengan senang hati mau menerima anak-anak berkebutuhan khusus terutama anak ASD yang ternyata kalau sudah punya satu keahlian, bisa fokus dan mengagumkan.

Ini adalah website satu perusahaan komponen elektronik yang pegawainya hampir semuanya adalah orang-orang ASD. http://www.cns.org.au/about.htm

Di Amerika juga ada perusahaan - perusahaan yang bersedia menerima macam – macam disabled people. Bahkan ada organisasi - oganisasi swasta yang bersifat non profit, yang membantu untuk melatih dan menyalurkan untuk bekerja pada perusahaan - perusahaan.

Perusahaan tersebut sudah membuat semacam sistem dalam bentuk sebuah workshop (restoran,bengkel, craft shop) di mana mayoritas yang berperan adalah anak-anak berkebutuhan khusus. Kalau penerapannya tetap disesuaikan dengan kondisi lokal.

Kebanyakan orang tua yang tak mampu biasanya menganjurkan anaknya bekerja (biasanya perusahaan menerima penyandang cacat asal dinilai mampu melakukan pekerjaan yang akan diberikan) atau tinggal di rumah saja, bisa meminta DLA (disabilty living allowance - santunan uang dari pemerintah untuk penyandang cacat).

Hal ini didukung dengan adanya undang - undang "Equal Employment Opportunity (EEO) Laws. Salah satu isinya adalah:

Title I and Title V of the Americans with Disabilities Act of 1990 (ADA), which prohibit employment discrimination against qualified individuals with disabilities in the private sector, and in state and local governments;

Kalau memang individu tersebut qualified untuk pekerjaannya, maka diberikan kesempatan, terlepas dari perbedaannya.

Perjuangan ’luar – dalam’

Semoga suatu hari di Indonesia juga ada UU ini atau semakin berkembang autism awareness nya, juga awareness untuk anak berkebutuhan khusus lainnya. Semoga lain waktu ada perusahaan atau lapangan kerja khusus untuk anak-anak kita. Saya yakin jika itu dari sekarang kita mulai tidak menutup kemungkinan.

Jadi "keluar" kita berjuang untuk membuat masyarakat bisa menerima keunikan anak spesial, "kedalam" kita harus mendidik anak masing-masing agar dapat mandiri dan berkarya.

A gift of life, anak-anak ini adalah kado dari Tuhan. Mereka bukan untuk disembunyikan, bukan pula untuk dianggap sebagai kutukan yang memalukan. Mereka juga berhak menikmati kehidupan seperti ”anak normal” yang diajak jalan-jalan oleh orangtuanya ke mal, atau diajak bersosialisasi dengan anak lain.

Masakan anak kita tidak bisa jadi orang yang berguna nantinya. Apapun itu sesuai kelebihan dan kekhususannya. Saya berharap para orang tua jangan berputus asa apapun keadaan anak kita. Percayalah Tuhan pasti telah memberikan kelebihan kepada anak-anak kita yang nanti pasti ada gunanya buat masyarakatnya. Amin.